KKN Tematik STIS Darul Falah Bondowoso Gelar Sosialisasi dan Edukasi Pencegahan Pernikahan Dini Batch 2 di Desa Palalangan


Bondowoso, 12 Agustus 2025 – Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik STIS Darul Falah Bondowoso Posko 2 melaksanakan kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Pencegahan Pernikahan Dini di Balai Desa Palalangan, Kecamatan Cermee, Kabupaten Bondowoso, Selasa (12/8). Kegiatan ini merupakan agenda lanjutan (batch 2) dari pelaksanaan program KKN Tematik STIS Darul Falah yang sebelumnya telah dilaksanakan di posko tujuh Desa Kladi, Kecamatan Cermee.

Program ini diselenggarakan sebagai upaya nyata menurunkan angka perkawinan anak di Kabupaten Bondowoso, khususnya di wilayah Kecamatan Cermee. Melalui kegiatan sosialisasi ini, mahasiswa KKN bersama mitra kerja memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang dampak negatif pernikahan dini, baik dari aspek kesehatan, psikologis, pendidikan, maupun sosial-ekonomi.

Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama KKN Tematik STIS Darul Falah dengan Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB), Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kecamatan Cermee, serta UPTD Puskesmas Cermee.

Turut hadir dalam acara ini, Bapak Untung dari Dinsos P3AKB, Bapak Hartodi dari BKKBN Cermee, serta Ibu Lina Kurnia Wijayanti, A.Md, Keb bidan dari Puskesmas Cermee yang memberikan materi terkait dampak kesehatan reproduksi akibat pernikahan dini. Dari pihak panitia KKN, hadir Bapak Zainal, M.H., selaku Ketua Pelaksana KKN Tematik 2025, serta masyarakat desa palalangan Kecamatan Cermee Kabupaten Bondowoso.

Sambutan Tokoh Masyarakat Desa Palalangan membuka acara dengan menyampaikan refleksi sejarah ketidakadilan gender yang masih memengaruhi pola pikir masyarakat hingga saat ini. Ia menyoroti bagaimana perempuan dahulu seringkali dibatasi hanya dalam urusan domestik, yang berdampak langsung pada keterbatasan akses terhadap pendidikan, sehingga praktik pernikahan dini menjadi jalan pintas untuk dilakukan, “Dalam era teknologi yang semakin terbuka, pentingnya bagi orang tua dan generasi muda untuk meningkatkan kesadaran dan literasi terhadap informasi yang tersedia, “ujarnya.

Beliau juga berharap pelaksanaan kegiatan KKN ini memberikan dampak besar terhadap perubahan masyarakat desa palalangan tentang bahayanya pernikahan dini “Harapannya, kegiatan KKN ini dapat memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan motivasi pendidikan dan pengembangan intelektual masyarakat, guna mengurangi angka pernikahan anak khususnya di desa palalangan ini,” Tambahnya.

Selanjutnya, sambutan Bapak Zainal selaku ketua pelaksanaan KKN Tematik 2025 menyampaikan apresiasi atas sinergi berbagai pihak dalam mendukung program ini. “Pernikahan dini bukan hanya soal usia, tapi juga kesiapan mental, kesehatan, dan masa depan anak. Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat mendapatkan wawasan dari pasca acara sosialisasi ini, sehingga mampu mencegah terjadinya perkawinan anak,” ujarnya.

Bapak Untung dari Dinsos P3AKB Kabupaten Bondowoso membuka pemaparannya dengan menyampaikan data terkini angka perkawinan anak di Kabupaten Bondowoso, yang meskipun menunjukkan tren penurunan, masih cukup memprihatinkan di beberapa wilayah, termasuk Kecamatan Cermee. Ia menjelaskan bahwa Dinsos P3AKB terus berupaya mengintegrasikan program perlindungan anak dengan edukasi masyarakat melalui sosialisasi di tingkat desa.

“Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 telah menetapkan batas usia minimal menikah adalah 19 tahun, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih mempraktikkan perkawinan anak karena faktor ekonomi, adat, atau rendahnya kesadaran. Kami hadir untuk memutus mata rantai ini dengan edukasi yang tepat sasaran,” tegasnya.

Ia menambahkan, Dinsos P3AKB juga menyediakan layanan konseling keluarga dan pendampingan hukum bagi masyarakat yang membutuhkan informasi atau bantuan terkait pernikahan dan perlindungan anak “Pemerintah kabupaten Bondowoso meluncurkan dua program strategis, yakni SEMARAK TP PKK (Sekolah Masyarakat Anti Perkawinan Anak) dan Aplikasi SIPEKA PAK (Sistem Pengaduan Kekerasan dan Perlindungan Perempuan dan Anak), aplikasi ini untuk mendukung terealiasinya program pemerintah demi membantu menurunkan angka perkawinan anak di kabupaten Bondowoso,” tambahnya.

Sementara itu, Bapak Hartodi dari BKKBN Cermee menekankan bahwa pencegahan pernikahan dini bukan hanya soal regulasi, tetapi juga erat kaitannya dengan program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana). “Pernikahan dini berdampak pada tingginya angka kemiskinan dan stunting, kematian ibu dan bayi, serta putus sekolah. Karena itu, BKKBN mendorong masyarakat untuk menerapkan perencanaan keluarga yang matang, termasuk memberikan kesempatan bagi remaja untuk menuntaskan pendidikan sebelum menikah,” jelasnya.

Ia juga mengajak para remaja untuk memanfaatkan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) sebagai sarana mendapatkan informasi kesehatan reproduksi yang benar, sehingga tidak terjebak pada keputusan menikah di usia yang belum matang.

Terakhir, Ibu Lina selaku Bidan UPTD Puskesmas Cermee menyampaikan materi dari perspektif kesehatan, khususnya kesehatan reproduksi remaja. Ia memaparkan risiko medis yang dihadapi remaja perempuan yang menikah dan hamil di usia dini, seperti komplikasi kehamilan, persalinan prematur, anemia, hingga meningkatnya risiko kematian ibu dan bayi.

“Tubuh remaja, khususnya organ reproduksi, belum siap secara fisik untuk menjalani kehamilan. Hal ini berisiko tinggi bagi kesehatan ibu maupun anak yang dilahirkan. Selain itu, pernikahan dini sering membuat remaja kehilangan kesempatan pendidikan dan pekerjaan yang layak,” paparnya.

Ibu Lina juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi pergaulan anak dan memberikan pendidikan seksual yang benar di rumah, agar remaja memiliki bekal pengetahuan untuk menjaga diri dari perilaku berisiko.

Acara berlangsung interaktif, diwarnai sesi tanya jawab antara peserta dengan narasumber. Antusiasme warga terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, khususnya terkait cara mencegah pernikahan dini di tengah tekanan ekonomi dan sosial.

Melalui program lanjutan Batch dua ini, KKN Tematik STIS Darul Falah Bondowoso berharap dampak edukasi bisa menjangkau lebih banyak desa bermitra, sehingga angka perkawinan anak di wilayah Bondowoso khsusnya di kecamatan Cermee dapat terus ditekan demi masa depan generasi muda yang lebih baik.

No comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *